Kumpulan Renungan Semester VI Part 4 (STTIP)


TAKUT AKAN ALLAH ADALAH JALAN KEBENARAN
Nehemia 5:15
            Seorang pemimpin merupakan teladan yang pasti akan dikuti oleh setiap orang yang dipimpinya atau penerusnya kelak. Ketika pemimpin kita orang yang takut akan Tuhan maka sebagai orang yang dipimpinnya kita akan melihat kebaikan Tuhan yang nyata dalam hidupnya dan tentunya ia akan menjadi teladan yang sangat memberkati kita. Namun, bagaimana dengan pemimpin yang tidak takut akan Tuhan! Tentunya hal ini juga membawa pengaruh kepada orang-orang yang dipimpinnya. Tetapi dari nats Firman Tuhan ini kita dapat belajar dari kehidupan Ezra ketika ia diangkat untuk menjadi bupati ia tidak mengikuti setiap tindakan yang dilakukan oleh bupati sebelumnya. Dimana dalam nats ini pemimpin sebelumnya merupakan orang-orang yang hidup jahat dimata Tuhan. Kita akan melihat Apa sajakah yang akan dilakukan oleh seseorang pemimpin yang hidupnya tidak takut akan Tuhan?
1.      Memberatkan orang lain. Orang yang tidak takut akan Tuhan ia akan selalu berusaha untuk menyusahkan orang lain. Terutama kepada orang yang derajatnya lebih rendah dari padanya (mis:raja terhadap rakyat). Pemimpin yang tidak takut akan Tuhan pasti tidak ingin menyusahkan dirinya atau anak buahnya. Mereka akan membebankan segala hal kepada orang yang dipimpinnya dan tidak mau disalahkan atas kesalahannya. Sangat berbeda dengan orang-orang yang hidupnya takut akan Tuhan. Mereka akan berusaha agar rakyatnya atau orang yang dipimpinnya tidak merasakan kesulitan. Karena ia tahu bahwa ia-lah yang seharusnya menanggung setiap kesulitan karena ia memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap tugasnya sebagai pemimpin dihadapan Tuhan.
2.      Mencari keuntungan diri sendiri. Seorang pemimpin yang hidupnya tidak takut akan Tuhan akan berusaha memberatkan orang lain karena ia ingin mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Biasanya mereka ingin memperkaya diri sendiri dan mereka tidak mau direpotkan dengan urusan-urusan yang sebenarnya adalah tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Malahan yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana cara memenuhi kebutuhannya saja.
Dari dua hal yang menjadi ciri tindakan seorang pemimpin yang tidak takut akan Tuhan ini. Sudah seharusnya kita semua belajar melalui Ezra dimana ia tahu bahwa tindakan para pendahulunya itu bukanlah tindakan yang benar dihadapan Tuhan maka ia tidak sedikit pun mengulai kesalahan yang telah dilakukan mereka.
Dapatkah kita saat ini memegang prinsip seperti Ezra yang mau hidup benar dihadapan Tuhan. Tentunya kita dapat melakukan hal ini asalakan kita pun mau mengambil komitmen untuk hidup takut akan Allah. Amin, Tuhan Yesus memberkati (Stella Mulalinda).

CINTA AKAN TAHTA MENJATUHKANKU
Ester 3:5
            Ada tiga hal penting yang sering dinasehatkan kepada setiap calon-calon hamba Tuhan atau orang-orang yang mengambil bagian dalam pelayanan, yaitu mereka harus berhati-hati atau menjaga hidup mereka dari harta,tahta dan wanita/pria.
            Mengapakah ketiga hal ini dianggap penting? Alasanya ialah ketika seseorang telah memiliki harta kekayaan yang lebih ia akan cenderung atau mudah jatuh dalam kelalaian dalam pelayanan. Tetapi sebaliknya ketika seseorang begitu sulit dalam hal harta ia akan menggunakan ladang pelayanannya sebagai ladang untuk mencetak uang demi memenuhi kebutuhan pribadinya. Jadi, pertanyaanya bagi kita harus bagaimanakah sikap kita sebenarnya, jika berlebihan atau berkekurangan harta pun dapat menjadi sandungan kita dalam melayani Tuhan?
            Pada dasarnya Tuhan tidak pernah ingin anak-anaknya hidup berkekurangan tetapi Tuhan ingin setiap anak-anaknya hidup dengan berkecukupan. Namun, sebenarnya yang salah ialah bukan harta (uang dsb) tetapi yang salah ialah motivasi kita dalam hal memiliki harta tersebut.
            Seperti Haman dalam nats ini ketika ia memiliki harta yang melebihi Mordekhai dan kedudukan yang lebih dari Mordekhai ia merasa tinggi hati sehingga ia ingin selalu dihormati dan ia pun jatuh kedalam dosa. Karena iblis mengambil peluang dalam hal ini sehingga membuat Haman merancangkan kejahatan dalam hatinya untuk mencelakakan Mordekhai.
            Dari nats Firman Tuhan ini kita diingatkan kembali bahwa kita harus berhati-hati ketika kita telah memiliki kedudukan yang cukup baik, mungkin dalam pekerjaan ataupun pelayanan kita. Kita harus menjaga motivasi kita bahkan kita harus mendoakan agar Tuhan mau menyelidiki hati kita apakah motivasi kita dalam melayani Tuhan itu tulus atau hanya untuk mencari keuntungan atau bahkan mencari kehormatan serta pujian saja.
            Maka ketika kita telah mengambil keputusan dalam melayani Tuhan atau dalam hal apapun kita harus manjaga hati kita agar kita tidak jatuh dalam hal-hal yang tentunya dapat dipakai iblis untuk membuat kita jauh dari pada Tuhan dan menggagalkan rencana Tuhan dalam kehidupan kita. Amin, Tuhan Yesus memberkati (Stella Mulalinda).

DEWASA IMAN
Ayub 1:21
            Mata pelajaran psikologi perkembangan mempelajari tidak hanya perkembangan pertumbuhan tubuh jasmani (fisik) seseorang saja, tetapi juga mempelajari perkembangan secara psikis (jiwa) yang dimiliki oleh seseorang juga.
            Dalam pekembangan secara fisik dilihat dari ketika seorang anak masih dalam kandungan,dilahirkan,anak-anak hingga ia dewasa, lansia dan meninggal. Begitu juga dalam perkembangan psikisnya semuanya dipelajari. Menarik jika kita memperhatikan perkembangan secara psikis seseorang. Karena kita dapat melihat atau memperkirakan karakter seseorang berdasarkan pertambahan usia maupun lingkungan dimana ia bertumbuh atau bergaul (keluarga).
            Dari nats ini kita dapat melihat bagaimana karakter atau perkembangan psikis secara rohani yang dimiliki oleh Ayub. Ketika seseorang masih anak-anak tentunya perkembangan psikis yang dialaminya ialah ia pasti manja terhadap orang tuanya, selalu ingin dituruti dan jika tidak ia akan marah. Ketika seorang beranjak remaja ia akan menjadi seseorang yang sangat labil yang tidak dapat mengambil keputusan dengan tepat dan mudah berubah pikiran. Namun berbeda ketika ia sudah tumbuh menjadi seseorang yang sudah dewasa ia akan dengan mantap mengambil keputusan yang tentunya ia sudah dapat memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya ketika ia telah mengambil keputusan tersebut.
            Hal ini tidak jauh berbeda dengan perkembangan kerohanian seseorang. seorang yang masih anak-anak secara rohani akan mudah mengeluh dan marah kepada Tuhan serta hanya ingin mengaharapkan semua keinginannya terkabulkan. Namun, ketika seseorang telah memiliki kedewasaan secara rohani ia memiliki pemikiran yang lebih luas dan lebih mengarahkan hidupnya kepada kehendak Tuhan bukan lagi kepada kehendak pribadinya.
            Jadi, ketika yang terjadi dalam kehidupannya tidak seseuai dengan yang dia inginkan ia dapat menerimanya tanpa mengelu dan menyalahkan Tuhan. Hal ini lah yang dapat menjadi berkat bagi kita melalui kehidupan Ayub, dimana ketika ia menghadapi kenyataan tidak seperti keinginannya ia masih tetap bersyukur kepada Tuhan. Ia justru memuji Tuhan ditengah pergumulan yang ia hadapi. Karena ia menyadari bahwa Tuhan tidak akan mungkin mengizinkan hal tersebut terjadi jika Tuhan tidak memiliki rencana yang lebih baik bagi kehidupannya.
            Marilah kita semua belajar seperti Ayub dan marilah kita mempertanyakan kepada hati kita masing-masing apakah kita masih memiliki iman yang masih kanak-kanak atau telah dewasa. Hal ini hanya dapat kita lihat ketika kita mengalami permasalahan dalam kehidupan kita ketika kita marah kepada Tuhan itu artinya kita masih anak-anak dalam iman dan kita belum dewasa. Amin, Tuhan Yesus memberkati (Stella Mulalinda).

APAKAH KASIH ALLAH MASIH ADA??
Mazmur 78:38
            Segala sesuatu pasti akan berubah, ada yang lebih baik atau semakin buruk. Pertanyaannya apakah kasih Allah terhadap kita pun akan berubah?? Bagaimana jadinya jika kasih Allah menjadi semakin dingin! Apakah kita dapat bertahan?. Kasih manusia hari lepas hari semakin dingin. Terkadang seorang sahabat dapat menjadi lawan, terkadang kesabaran menjadi sandungan bagi pribadi seseorang yang memiliki kesabaran. Lalu bagaimana dengan kasih Allah, apakah kasih Allah seperti kasih manusia yang memiliki limit pemakaian atau memiliki batas? Dan apakah kita bisa membatasi kasih Allah?
            Untuk menjawab setiap pertanyaan ini, marilah kita merenungkan nats ini. Ayat ini mengingatkan kita dan meneguhkan kita bahwa Allah itu adalah Allah penyayang dalam bahasa aslinya menggunakan kata רַח֙וּם   (Rachuwm “Rakh-oom”)  yang artinya kasihan atau keharuan. Dalam terjemahan Alkitab versi KJV dikatakan bahwa Tuhan itu being full of compassion yang artinya bahwa Tuhan itu penuh dengan perasaan kasihan atau terharu. Ini merupakan salah satu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terkadang muncul dalam hati kita, sering kali ketika kita berada dalam pergumlan atau dalam permasalahan kita bertanya apakah kasih Allah itu masih ada? Dan jawabannya adalah iya, mengapa? Karena Allah penuh dengan perasaan kasihan atau terharu dalam Alkitab terjemahan sehari-hari dikatakan bahwa Allah mengasihani semua anak-anakNya. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk merasa bahwa Tuhan tidak mengasihi kita.
            Alasan kedua atau jawaban kedua dari pertanyaan apakah kasih Allah itu masih ada? Ialah bahwa Alah mengasihi umatNya dengan mengampuni dan tidak memusnakan kita. Nats ini menunjukan betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita. Ayat ini menceritakan tentang bagaimana Tuhan mengasihi umat Israel yang begitu menyakiti hati Tuhan dengan segala dosa yang telah mereka lakukan. Berkali-kali Tuhan disakiti tetapi ia tetap mau mengampuni dan tidak memusnahkan mereka. Jika hal ini berada di posisi kita, saya yakin dan percaya tidak ada satu orang pun yang dapat menahan amarah dan menahan dirinya untuk tidak menghukum. Kita bersyukur mempunyai Allah yang begitu luar biasa yang selalu mengasihi kita. Jika kasih Tuhan ada batas limidnya sudah tentu kita telah dimusnahkan Tuhan sejak berabad-abad lalu. Namun, hal tersebut tidak dilakukannya, sekali lagi karena ia begitu mengasihi kita.
            Dan jawaban terakhir, apakah kasih Allah itu masih ada ? ialah ditunjukan Tuhan dengan menahan murkaNya untuk menghukum kita. Hal ini merupakan suatu bukti bahwa begitu dalamnya kasih Tuhan kepada kita. Sehingga setiap saat Ia mau menahan diriNya untuk tidak menghukum saya dan saudara. Dapatkah kita menahan kemarahan kita ketika ada orang yang bersalah terhadap kita? Jawabanya tidak, karena saya dan saudara-saudara semua lebih mudah melihat kesalahan orang lain dan sulit mengintrospeksi diri sendiri dan yang utama karena kita hanya mengasihi diri kita sendiri, kita tidak memiliki kasih yang besar seperti Tuhan yang mau mengampuni kita meskipun kita telah beribu-ribu kali menyakitinya dengan dosa-dosa kita. Jika Tuhan egois pasti kita sudah dimusnahkannya dengan geram dan amarahNya.
            Jadi, melalui perenungan ini kembali kita diingatkan Tuhan bahwa kasih Tuhan itu masih ada! Kasih Allah tidak pernah hilang bahkan berkurang, kasih Allah tidak pernah menjadi dingin, dan kasih Allah itu adalah kasih yang sempurnah. Karenanya, jangan pernah sedetikpun kita berfikir bahwa Allah sudah tidak mengasihi kita ingatlah bahwa kasih Allah tidak ada batasnya meskipun ia menghukum kita itu adalah bentuk kasihnya kepada kita. Jika dengan menghukum kita Ia dapat menyelamatkan kita, itu jauh lebih berharga dari pada kita dilimpahi berkat namun kita kehilangan kasih Allah dan jatuh lebih jauh ke dalam dosa. Amin, Tuhan Yesus memberkati (Stella Mulalinda).

1:1000 “SATU BANDING SERIBU”
Mazmur 84:11
            Ketika menerima undangan pernikahan dan undangan ucapan syukur kedukaan. Kebanyakan orang lebih mengutamakan untuk mengahadiri undangan pernikahan. Dan ketiaka ada undangan ulang tahun teman dan undangan ibadah pemuda dsb. Kebanyakan muda/i dizaman ini memilih pergi ke acara ulang tahun teman.
            Dari pebandingan ini kita dapat menilai bahwa kita cenderung mendasarkan segala pilihan kita berdasarkan kedagingan kita atau kesenangan kita. Namun, pemazmur menegur kita bahwa begitu berharganya dan begitu utamanya waktu-waktu kita ketika berada di hadirat Tuhan.
            Pemazmur mengatakan bahwa lebih baik satu hari berada dipelataran Tuhan dari pada seribu hari ditempat lain. Hal ini menunjukan bahwa berada dalam rumah Tuhan atau berada dalam persekutuan itu merupakan suatu hal yang sangat penting. Hal yang sekama ini kita sepelekan dan kita abaikan, justru itulah yang seharusnya kita utamkan.
            Melalui renungan ini mengajarkan kita bahwa seharusnya kita dapat memilih mengutamakan Tuhan diatas segala kesukaan kita, diatas segala kesenangan kita. Kita sering berfikir bahwa pesta teman atau pesta pernikahan merupakan satu hal yang hanya terjadi satu kali sedangkan beribadah masih ada “minggu depan” atau ada waktu-waktu lainya.
            Tetapi dari nats ini menekankan kepada kita semua bahwa tidak ada alasan bagi kita untuk melalaikan waktu kita bersama dengan Tuhan. Hal inilah yang cenderung menggoda kita untuk tidak mengahadiri undangan persekutuan Allah, banyak alasan lain yang mungkin membuat kita malas bahkan menolak untuk datang beribadah. Tetapi biarlah melalui nats ini kita kembali diingatkan bahwa mencari Tuhan merupakan hal utama yang seharusnya menjadi dasar dalam kehidupan kita. Amin, Tuhan Yesus memberkati (Stella Mulalinda).

AKU MAU SEPERTI POHON KURMA DAN POHON ARAS LIBANON
Mazmur 92:13
            Tema renungan kali ini ialah aku mau menjadi seperti pohon kurma dan pohon aras Libanon. Tema ini mungkin sedikit membingungkan bagi kita. Namaun, tidak bagi pemazmur. Pemazmur begitu memahami tentang pohon kurma maupun pohon aras Libanon sehingga ia dapat menuliskan mazmur ini. Pertanyaannya bagi kita semua ialah mengapa harus pohon kurma dan pohon aras Libanon yang dipakai pemazmur untuk menggambarkan kehidupan orang benar? Mengapa tidak pohon beringin atau pohon jati dan pohon-pohon lainnya? Ada beberapa alasan mengapa pemazmur memilih pohon kurma dan pohon aras di Libanon.
1.      Pohon Kurma. Pohon ini tumbuh ditengah gurun pasir yang memiliki suhu yang sangat extrem. Ketika ia tumbuh, pohon kurma tidak menumbuhkan tunas terlebih dahulu seperti pada pohon lainnya, melainkan ia akan menumbuhkan akarnya terlebih dahulu ke dalam tanah sehingga ia menemukan air. Dapat dibayangkan seberapa dalamnya akar yang harus tumbuh ditengah gurun pasir sampai ia menemukan air. Seberapa dalamnya sumber air maka akar korma pun akan tumbuh sedalam itu. Setelah ia menemukan sumber air barulah ia akan menumbuhkan tunasnya ke atas dan hal ini menandakan bahwa dimana tunas kurma dapat tumbuh berarti disitu ada sumber air untuk kehidupannya. Dan ketika penanaman biji kurma dilakukan ditengah gurun dengan cara ditanam di dalam tanah sedalam 2-3 meter, kemudian ditimbun dengan bebatuan. Maka setelah akarnya tumbuh ke dalam tanah dan menumbuhkan sumber air, maka biji kurma ini akan menumbuhkan tunas dan memecahkan bebatuan yang menimbun diatasnya hingga tunasnya tumbuh dan hidup berjuang tak kenal rasa takut akan hawa panas karena sudah mempunya modal yang kuat yakni akar yang begitu panjang dan dalam hingga ke sumber mata air di bawah gurun pasir (http://filsafat.kompasiana.com/2012/06/25/hidup-yang-benar-diibaratkan-seperti-pohon-kurma-473294.html).
2.      Pohon aras Libanon. Pohon Aras merupakan salah satu jenis pohon langka pada masa sekarang. Saat ini hanya tersisa satu rumpun kecil di utara Beirut, Libanon. Pohon aras dapat mencapai tinggi 40 meter dan lebar sekitar 9 - 15 meter, dengan diameter batangnya 2,5 meter. Dahan-dahan dari satu pohon aras panjangnya bisa mencapai 33,8 m dari ujung ke ujung. Keliling batang beberapa pohon aras adalah 9 sampai 12 m. Pohon-pohon yang sangat besar ini terus tumbuh selama ratusan tahun. Pohon aras menghasilkan buah yang panjangnya 20 cm dan memerlukan tiga tahun untuk menjadi matang. Getah yang wangi menetes dari batang dan buahnya  Kayu pohon yang bergetah harum ini amat keras dan tahan lama, sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi.Pohon aras Libanon (cedrus libani) berasal dari Asia Kecil dan menjadi tanaman asli Libanon, Siria dan bagian selatan Turki. Ciri pertama yang dapat kita ketahui tentang aras Libanon, adalah secara fisik pohon aras adalah pohon yang kuat, megah dan berkualitas, cabang-cabangnya yang tumbuh secara horizontal dan membuat pohon ini kelihatan sangat lebar dan gagah. Jika tumbuh berhimpitan, pohon ini akan tumbuh secara lurus ke atas, tetapi jika ditanam dengan jarak yang cukup jauh, maka cabang-cabangnya akan tumbuh melebar ke samping.
Kulit kayu aras Libanon berwarna abu-abu gelap. Jika kulit itu tergores, maka ia akan mengeluarkan getah yang menebarkan aroma yang begitu wangi, sehingga jika kita berjalan di hutan aras Libanon akan terasa sangat menyenangkan.
(www. Pohon Aras _ Bersosial.com).
Saat ini kita telah melihat bagaimana keunggulan dari kedua pohon ini. Yang pertama pohon kurma. Pemazmur menggambarkan kehidupan orang benar bertunas seperti pohon kurma. Melalui data yang ada kita telah mengetahui bagaimana perjuangan satu tunas kurma dapat hidup. Pertama ia harus berakar untuk mencapai sumber air. Seberapa dalam pun itu ia tetap mencarinya tanpa henti hingga ia boleh menemukan sumber ait tersebut. Sehingga dimana ada pohon korma yang tumbuh hal ini menunjukan bahwa disitu ada sumber air. Hal inilah yang ingin digambarkan oleh pemazmur bahwa kehidupan orang benar itu seperti tunas kurma, mengapa? karena orang benar dapat hidup ketika ia telah berakar kepada sumber air kehidupan yaitu Tuhan. Meskipun banyak kesulitan dan tantangan yang harus ia hadapi orang benar harus tetap mencari sumber kehidupan itu. Dan ketika orang benar dapat tumbuh hal ini  berarti ada sumber kehidupan yangdapat mengidupinya dan  tentunya juga dapat menjadi sumber kehidupan orang disekitarnya dan hal ini juga berarti bahwa orang benar haruslah menjadi berkat bagi orang disekitarnya. Maka satu hal yang ingin pemazmur katakan  ialah bahwa pohon ini memiliki dasar yang kuat dan tetap dapat tumbuh meskipun banyak tantangan dan kesulitan yang harus dihadapi karena ia telah menemukan sumber air kehidupan dan ia dapat menerobos segala penghalang yang mengahalangi tunasnya bertumbuh. Begitu juga setiap orang benar harus mencari Tuhan yang adalah sumber air kehidupan dan berakar di dalamnya,
Sedangkan pohon aras Libanon merupakan pohon yang begitu kuat dan langkah saat ini sehingga di Libanon pun pohon ini dilindungi oleh pemerintah, pohon aras ini memiliki banyak keunggulan yakni ketika ia tumbuh berdekatan ia tidak saling mengganggu tanaman lainnya karena ia dapat tumbuh lurus keatas dan ketika kayunya tergores justru ia mengeluarkan aroma yang sangat harum, tidak hanya itu pohon ini pun memiliki daya tahan yang kuat terhadap serangan hama dan serangga.
Maka pohon aras ini digunakan oleh pemazmur untuk menggambarkan kehidupan orang benar bahwa orang benar ini adalah orang yang kuat dan langkah serta dilindungi Tuhan. Tidak hanya itu saja pemazmur juga ingin mengingatkan kembali kepada kita bahwa ketika batang pohon aras tergores justru ia mengeluarkan keharuman, maka begitulah seharusnya kehidupan orang benar ketika ia harus mengalami gesekan dan goresan justru ia harus mengeluarkan keharuman yang memberkati orang disekitarnya termaksud orang yang telah melukainya dan yang paling utama ialah bahwa pohon aras ini memiliki daya tahan terhadap serangan serangga. Iblis merupakan hama dan serangga yang merusak kehidupan orang benar oleh karena itu kita harus menjadi seperti pohon aras yang kuat dan memiliki daya tahan terhadap godaan iblis.
Maka maukah kita menjadi tunas pohon korma dan pohon aras Libanon. Marilah kita renungkan dan meminta kekuatan dari pada Tuhan sehingga Tuhan dapat memampukan kita menjadi seperti yang Dia ingini. Amin, Tuhan Yesus memberkati (Stella Mulalinda).

RESPON YANG BAIK
Amsal 15:1
            Komunikasi merupakan suatu hal yang setiap orang lakukan setiap hari. Dalam komunikasi pada dasarnya harus ada orang yang meresponinya. Tetapi ada respon atau jawaban yang menenagkan hati namaun ada juga jawaban yang justru membuat sedih atau marah. Oleh karena itu melalui Amsal ini menunjukan  bentuk bagaimana cara merespon orang lain  dengan baik. Jika ada cara merespon yang baik berarti ada cara merespon yang tidak baik. Melalui renungan ini kita akan melihat kedua bentuk dalam merespon atau memberikan jawaban.
1.      Ketika seseorang ingin membakar sampah ia pasti mebuat api yang kecil terlebih dahulu kemudian ia menyiramnya dengan meninyak tanah atau bensin. Ketika ia melakukan hal tersebut dengan cepat apai tersebut akan membesar dan membakar seluruh sampah yang akan dibakar. Melalui ilustrasi ini menggambarkan bagaimana suatu perkataan yang pedas dalam bahasa aslinya menggunakan kata עֶ֗֜צֶב (Pro 15:1 WTT) terjemahannya hurt yang artinya menyakitkan, menyedihkan, kasar, keras dapat membangkitakan amarah. Hal ini seperti seseorang yang sedang membakar sampah tadi. Seseorang yang mengeluarkan perkataan atau menjawab pertanyaan orang lain dengan nada yang kasar , keras dapat menyakitkan hati orang lain sehingga membangkitkan amarah atau kegeraman kepada orang yang diresponnya tersebut.
2.      dibagian pertama memperlihatkan bagaimana jawaban yang kasar seperti orang yang menyiramkan minyak tanah pada api yang kecil dan justru membuat apai tersebut semakin besar. Tetapi justru sebaliknya ketika seseorang ingin memadamkan apai ia harus menyiramnya dengan air. Demikianlah ketika seseorang memberikan jawaban dengan lemah lembut maka ia seperti menyiramkan air kedalam api yang sedang menyala. Hal ini berarti jawaban yang lemah lembut membuat sesuatu yang tadinya membakar amarah atau suatu kondisi yang panas menjadi dingin. Atau yang tadinya seseorang akan marah namun dengan jawaban yang lemah lembut menjadi tidak marah.
            Jadi, melalui Amsal ini kita dapat melihat bahwa jawaban yang kita keluarkan menentukan apa yang akan terjadi kedepannya jika kita menajwab dengan kasar maka kita akan menimbulkan amarah sedangkan ketika kita menjawab dengan lemah lembut maka kita akan memadamkan api amarah dihati orang lain. Amin, Tuhan Yesus memberkati (Stella Mulalinda).

BERILAH YANG TERBAIK
Amsal 11:24-25
            Dunia berkata Boros pangkal miskin, hemat pangkal kaya. Tetapi Firman Tuhan berkata “ada orang yang meneyabar harta tetapi bertambah kaya namun ada yang berhemat tetapi selalu berkekurangan”.
            Melalui ayat ini ingin menegur setiap orang percaya bahwa kebanyakan orang sulit untuk mengeluarkan uangnya untuk membantu orang lain. Kebanyakan orang mengikat dompertnya erat-erat ketika diminta untuk mengeluarkan uangnya demi kepentingan umum. Karena, kebanyakan orang sekarang ini lebih mengutamakan kepentingannya sendiri, mereka berhemat untuk dapat memenuhi kebutuhannya sediri dan tidak memperdulikan orang lain.
            Tetapi sekali lagi Firman Tuhan ini ingin mengingakan kita bahwa Tuhanlah yang empuhnya berkat dan segala kelimpahan. Ketika kita dapat memberian sebagian berkat kita untuk emnolong orang lain maka Tuhan pun tidak segan-segan untuk membuka tingkap berkatnya kepada kita.
            Terlbih lagi ketika kita mengeluarkan uang kita untuk pelayanan Tuhan maka Tuhan tidak akan pernah melupakan hal tesebut. Oleh karena itu jangan pernah kita kikir dalam membantu orang lain terlebih lagi untuk pekerjaan Tuhan. Amin, Tuhan Yesus memberkati (Stella Mulalinda).

HAJARAN MENUJU KEPADA KEBAIKAN
Amsal 13:24
            Orang yang mengasihi kita akan menegur kita ketika kita melakukan kesalahan, iya akan memarahi kita bahkan memukul kita. Tetapi orang yang tidak mengasihi kta tidka akan memperdulikan kita.
            Amsal menuliskan bahwa orang tua yang tidak mau mengahajar anaknya berarti ia tidak mengasihinya justru sebaliknya orang yang mengasihi anaknya akan dengan tidak segan-segan menghukum danaknya.
            Dalam bahasa asli menggunakan kata מוּסָֽר (Pro 13:24 WTT) disipline, chastening, corretions. Yang artinya mendisiplin, menghukum untuk baik, dan pembetulan /perbaikan. Jadi kata menghukum disini memiliki arti yang luas. Maka ketika orang tua menghukum kita berarti ia sedang mendisiplik kita agar kita jauh lebih baik.
            Begitu juga dengan Tuhan ketika Ia menghukuk kita atau menegur kita hal ini berarti Tuhan sedangan mengeroksi kita atau sedang memperbaiki kesalah kita agar kita tahu dan tidak melakukannya atau mengulangi kesalahan yang sama dalam kehidupan kita.
            Tetapi kebanyakan orang beranggapan ketika Tuahan sedang menghukum hal ini berarti Tuhan tidak mengasihinya justru dari ayat ini kita tahu bahwa ketika Tuhan menghukum kita berarti ia sedang mendidi kita dalam kebenaran sehingga kita hidup jauh lebih baik dari sebelumnya.
            Tuhan menggambarkan hukuman dengan tongkat hal ini menunjukan peghajaran dan ketika seseorang dihajar yang akan dirasakan pastilah kesakitan. Seorang gembala yang menuntun dombanya, ketika domabanya melenceng dari jalan yang ditunjukan pasti akan memukulnya dengan tongkat memang sakit dirasakan tetapi hal tersebut membuat domba itu aman dan tidak tersesat. Begitu juga dengan kita meskipun didikan Tuhan itu terkadang sakit namun didikan itu akan membawa kita tetap berada pada jalannya dan kita tidak akan tersesat. Amin, Tuhan Yesus memberkati (Stella Mulalinda).
        
RENDAH HATILAH
Amsal 27:1-2 :
            Untuk mengawali renungan ini ada sebuah percakapan yang dilakukan oleh dua orang anak yang masih duduk dibangku SD. Anggap saja namanya Ani dan Ana. Suatu hari setelah selesai mengikuti ujian. Ani bertanya kepada Ana:
Ani      : Ana kamu bisa menjawab semua pertanyaan tadi?
Ana     : Ia Ani, bagaimana denganmu?
Ani      : Pasti dong, dan aku yakin besok aku pasti aku mendapatkan hasil yang bagus, bukannya aku memuji diri sendiri ya! tetapi selama inikan aku selalu juara dikelas. Jadi, ya soal seperti tadi sih mudah saja aku jawab.
Ana     : baguslah kalau begitu.
            Dari dialog ini dapat dilihat bagaimana ke PD (Percaya Diri)-an Ani. Hal inilah yang sering kita temui dalam keseharian kita, terkadang tanpa kita sadari kita sering memuji diri kita sendiri dan merasa hebat, serta kita meremehkan orang lain. Pertanyaannya bagi kita apakah kita tidak boleh memuji diri sendiri? Lalu ketika kita berhasil melakukan sesuatu apa yang harus kita lakukan jika kita tidak boleh memuji diri sendiri? Nats Firman Tuhan ini memberikan jawaban yang tepat untuk kedua pertanyaan ini.
1.      Apakah kita tidak boleh memuji diri sendiri? Kata memuji diri sendiri dalam bahasa aslinya ialah הַלֵּל  (hallel), yang artinya boastfull atau sombong. Dalam terjemahan lainnya pun memberikan arti yang sama. Sedangkan dalam terjemahan BIS menggunakan kata membual yang artinya mengobrolkan atau menyombongkan sesuatu. Maka apakah kita boleh menyombongkan diri sendiri? jawabannya Tidak!, mengapa? (Ay 1) karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dihari esok. Kata tidak tahu dalam terjemahan lainnya menggunakan kata “Not know”. Sedangkan dalam bahasa aslinya menggunakan kata יָדַע    (yada) yang dapat diartikan to know, to be made know, to cause to know, dan to make Self to know, yang artinya bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengetahui ,membuat tahu, alasan untuk tahu, dan untuk membuat dirinya sendiri tahu apa yang kan terjadi di hari esok. Dari bahasa asli ini dapat kita pahami bahwa sedikit pun kita tidak dapat menyombongkan diri kita karena tidak ada satu hal pun yang dapat kita ketahui akan apa yang terjadi di hari esok hanya Tuhan sajalah yang mengetahui segalanya.
2.      Apakah yang harus kita lakukan ketika kita berhasil? Jawabannya terletak pada ayat ke 2 dimana setiap pujian yang kita terima seharusnya berasal dari orang lain, bahkan dari orang yang tidak kita kenal. “Orang yang tidak kaukenal” dalam terjemahan KJV: stranger, NIV: someone else, FAYH: orang lain. Dalam bahasa aslinya נָ֜כְרִ֗י  (nakeri): stranger, foreign, alien (orang yang tidak dikenal, orang luar negri, orang asing/ orang yang berbeda dari....). Melalui perbandingan kata ini semakin menegaskan bahwa Tuhan tidak sedikit pun berkenan kepada kita yang memuji diri sendiri atau menyombongkan diri sendiri. Bahkan yang seharunya memberikan pujian kepada kita bukan hanya sekedar orang lain yang berada di sekitar kita mungkn teman atau keluarga, justru yang seharusnya memuji kita ialah orang yang tidak kita kenal tidak hanya itu di artikan bahwa orang luar negri bahkan “Alien” atau orang asing yang berbeda dari kita. Dan hal ini tentu jarang terjadi bahkan tidak mungkin terjadi.
Maka hal ini menunjukan bahwa kita tidak memiliki alasan apapun yang membenarkan diri kita untuk dapat menyombongkan diri kita bahkan kita tidak layak untuk dapat menyombongkan diri kita sendiri dan biarlah orang lain/orang asing/orang luar negri yang tidak mengenal atau yang tidak kita kenal-lah yang harusnya memuji kita. Tetapi hal ini menunjukan sesuatu hal yang jarang bahkan mustahil terjadi. Dari nats ini kita belajar untuk selalu rendah hati biarlah keberhasilan yang kita telah capai tidak membuat kita sombong justru membuat kita semakin bersyukur kepada Tuhan dan merendahkan hati kita. Karena, segala sesuatu yang kita capai tidak pernah lepas dari anugerah dan penyertaan Tuhan atas hidup kita. Amin, Tuhan Yesus memberkati (Stella Mulalinda).





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Pelayanan Praktek 1 Tahun di GKII (Gereja Kristen Injili Indonesia) Jemaat Curup

kumpulan renungan warta jemaat GKII PLG Oktober 2017

Kumpulan Renungan Semester X Part 4 (STTIP)